11.7.11

Sejauh mana mampu kita bersabar. Mungkin kadang-kadang sesak nafas di dada ni menahan amarah dan sedih yang tak sudah-sudah. Menangis, tersedu-sedan meraung, meratapi nasib.

Ya itu aku. Selalu benar semua ini terjadi pada diri aku. Kadang-kadang emosi lebih dari rasional. Tindakan pun yang bukan-bukan. Nasib baik bukan pisau yang terletak dekat di tangan. Dalam bahasa Jawa, aku digelar cengeng. Menangis sampai tak mampu berfikir. Hingga mengeruhkan keadaan.

Tak mengapa, aku belajar, belajar utk bersabar dgn dugaan hidup, mendekatkan diri dgn Allah yang Esa. Tiada yang lain, hanya Nya yang menjadi peneman, pendengar setia ku. Ku perdengarkan ayat-ayat Mu sebelum tidur, ku dendangkan sebaris dua ayat suci Mu, agar aku dapat lebih tabah menghadapi sebarang dugaan. Bukan hanya utk ku, tetapi utk insan-insan yang ku sayangi.

Bukan aku tak tahu ada antara kalian yang memerli aku. Ibaratnya aku seperti ayam bertelur riuh sekampung. Ya pelbagai badai yang melanda aku. Aku hanya mengharapkan doa kalian. Bukan perlian. Tetapi terima kasih lah atas perlian-perlian itu. Aku sabar.

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

bersabar je..
"Disebalik kedukaan itu, ada kebahagiaanye akan muncul jua."
pedulikan je smua tu...

July 12, 2011 at 5:05 PM  
Blogger Aina Aadnan said...

Ye, alhamdulillah, things are better now. :)

August 15, 2011 at 4:10 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home